Mencoba Kembali di Usia 4 Tahun

Mencoba Kembali di Usia 4 Tahun

Gak punya foto pas kejadian, anggap aja lustrasi nya begini

Malam semakin larut, pertanyaan bodoh kembali menggurutiku. Entah, dengan sadar aku kehilangan arah. Kadang lupa bagaimana cara nya untuk memulai kembali menyambut bahagia. Lagi aku di sudutkan dengan masa lalu. Lagi aku dikembalikan kepada gelapnya alam. Namun tetap saja aku harus kembali mengenang. Baiklah aku mencoba mengikuti, aku mencoba masuk perlahan, aku tahu ini akan menyakitkan. Ke semua itu aku menjadi lagi di usia 4 tahun. Usia yang seharusnya menjadi kenangan bermain layaknya anak-anak lain. Namun tidak di aku :)

Peperangan antar TNI dan rakyat aceh tahun 2000-an menjadi kelam. Hancur menjadi debu, pertumpahan darah dimana-mana, hingga manusia menjadi mayat dengan sadisnya. Aku terpaku, aku tiba-tiba diam membisu, menjadi anak yang seharusnya tidak berada disitu. Tenang, aku ternyata tidak sendiri. Kala itu, wanita tegar yang selalu bersamaku, dia menjadi pahlawan seutuhnya. Iya, dia Ibuku. Aku mencintainya. Pelukannya begitu hangat, aku tidak dapat membandingi sehangat apa pelukannya. Yang aku tahu, itu tidak jawabannya.

Ketika itu, beliau tidak berhenti memelukku sembari mengucap kalimat Laailahaillallah. Mencoba menenangkan keadaan demi anak, padahal dia takut. Jelas itu terlihat dari tangannya yang bergetar saat memelukku. Begitu bijaknya seorang Ibu, begitu mulia nya akhlaknya seorang ibu, begitu cintanya seorang Ibu kepada anak. Apalagi yang kurang? Tidak, tidak... dia begitu indah hingga tak ada satu pun yang dapat menggantikannya. 

Terdengar jelas bidikan senjata itu terus berjatuhan di atas atap rumah. Kembali ibu memelukkan dengan erat hingga posisi duduk kami berubah menjadi tiarap yang seharusnya. Bidikan itu semakin keras, mereda nya begitu lama, ketakutan ku semakin jelas, tidak tahu dengan ibu, namun yang kurasa ibu terus saja melindungiku. Mencoba menenangkan ku dengan kalimat “tidak apa-apa, semua nya baik-baik saja, Nak”. Tak lupa beliau tersenyum sebagai tanda agar tak berlebih aku dalam ketakutan. 

20 menit kemudian, bidikan setan itu pun berhenti, namun aku belum bangun dari posisi tiarapku. Aku menjadi gemetar, aku menjadi abu-abu, hingga yang aku tahu saat itu hanya Ibu milikku. Dan ketika bidikan itu berhenti ibu langsung bangkit dari posisi tiarap dan berjalan ke arah jendela untuk memastikan apakah tembak senjata sudah benar-benar mereda atau hanya sesaat. Ibu melihat ke arah ku, memberikanku isyarat agar tidak ribut  dan tidak bangun dari posisi tiarapku. Sungguh saat itu, aku memiliki harapan yang sama dengan Ibu. Tidak lagi terjadi tembakan senjata, tidak lagi berjatuhan mayat dan tidak lagi kami menjadi kalang kabut mencari tempat aman. 

Akhirnya ibu kembali dan memelukku. Alhamdulillah, Allah bersama kita. *ucap ibu mencoba menenangkan keadaan. Aku pun kembali memeluk erat. Aku menyayangi Ibu...

***
END..
Ini pun masih sama, bukan aku. Tapi beginilah ketakutan yang kurasa, nangis terus.


Subscribe to receive free email updates: